Home > demokrasi, indonesia, KPK, politik, Polri, sby > Menganalisa SBY – part 1of2

Menganalisa SBY – part 1of2

Menganalisa SBY-1

Debu pertempuran sudah mulai reda – setelah detik2 terakhir SBY kembali mengaduk debu dengan kasus menkes – mulai nampak hal2 yg tadinya buram penuh kabut.

Menganalisa SBY adalah suatu hal yang perlu, dia adalah presiden publik, dipilih rakyat banyak – termasuk penulis – dengan ekspektasi tinggi, dalam suatu periode sejarah Indonesia yg bisa dibilang cukup kritis untuk mennetukan masa depan jangka panjang negara.

MANUSIA

Menganalisa manusia sebagaimana adanya tidaklah sederhana. Untuk tahu ttg simpanse aja Jane Goodall harus nongkrong bareng puluhan tahun. Tentu saja, kalau kita bisa tiap hari nongkrong di wc cikeas, tak perlu puluhan tahun kita tahu SBY.

Maksudku, SBY ini – layaknya manusia – adalah benda kompleks, untuk memahaminya kita perlu melihat latar belakang, apa yg “make him ticks”, latar budaya, emosional dan cita2nya.  Banyak hal tidak bisa diambil at-face-value saja, misalnya karena SBY ini PhD jadi pasti ‘intelektual’. Ada banyak hal2 kontradiktif pada dirinya (spt umumnya manusia lain), PhD yg percaya pada blue-energy, supertoy, dan numerology 9 – belum lagi segala macem jin, adalah salah satunya. Juga jendral militer yg dicetak di jaman soeharto (baca: diktator militer) tetapi bisa begitu ragu2 dan gak-pede spt harmoko, civilian yg jadi kesed-soeharto (militer aja jadi kesed-soeharto, spt wiranto, ya ambrol). SBY adalah jendral nyleneh, karena dia sukses walau tidak di-emut soeharto (bukan karena kurang usaha dari SBYnya!, cuman soeharto nya yg cuwek).

Lalu SBY adalah seorang jawa ndeso pacitan, tapi sangat beda dari soeharto yg kere ndalit, SBY adalah ‘middle-class’ di khasanah ndeso, anak tunggal dari keluarga ‘priyayi cilik’.  Ini jelas mempengaruhi sudut pandang SBY. Tidak spt soeharto yg alienated karena kere pol dan bapak gak ada. SBY alienated juga secara sosial, bukan karena kerenya, tetapi karena ambegan (ambisi) keluarga kelas menengah yg tahu ttg dunia ‘priyayi asli’ dan sekaligus tahu bahwa mereka bukan. Ditambah lagi, sebagai anak satu2nya, yg relatif ‘bagus’ (dalam artian jawa ini berarti anak yg relatif bersih, tinggi –> bambangan, bukan cakil), jelas bahwa cita2 keluarga numpuk di pundaknya.  Sekolahnya relatif baik, hal spt ini tidak berarti kecerdasannya sangat istimewa, kecuali dalam hal dorongan ambisi dan kesempatan2.

Kelahirannya yg numerologi 9 (9/9/1949) itu mungkin juga faktor penentu. Yg jelas, keberhasilannya masuk AMN (Akabri), lalu mempersunting anak gubernurnya yg pahlawan (sarwo edhie) pasti makin memastikan ‘pinasti’ (nasib) nya, sama spt kawinnya soeharto dg tien.

Prestasi militer SBY tidak membuatnya di tengah2 kancah, dia lebih merupakan seseorang yg selalu di pinggiran, tetapi tidak terlalu jauh.  Jadi pada saat2 huru hara, dimana tokoh2 nomor 1, 2, 3 tidak bisa dipercaya, maka tokoh2 nomor 9 keatas jadi bisa bermain.

Psikografis SBY adalah seseorang yg tidak menonjol, tahu batasan dirinya sendiri, tetapi didorong oleh ambisi2 irasional (ambegan priyayi cilik, numerologi, kawin naik, prestasi sekolah).

Pada dirinya banyak dorongan yg ber-beda2.

Idea2 tinggi didunia (ideologi2, cara2 manajemen negara, sampai metodologi sosial dan public governance practices sampai ke public relation techniques) cukup dikenalnya, walau tidak bisa dipastikan secara mendalam, tetapi jelas jauh lebih dalam daripada rata2 pemimpin Indonesia sejak soeharto (hanya soekarno yg mungkin lebih intektual dari SBY). Jelas jauh dari Mega dan GD misalnya.  Ini yg memberinya kesan pintar di Indonesia.
Pertanyaannya, apakah ‘lebih tinggi dari mega’ ini berarti cukup? Ini adalah pertanyaan penting. Karena banyak tindakan SBY kontradiktif. Banyak indikasi bahwa dia tidak cukup mengerti, hanya sangat rudimentari, sehingga dia lebih berkonsentrasi pada sisi yg paling nampak nyata: public face.

Dorongan lain adalah semangat priyayi ndesa yg berambegan tinggi, nampak dari seleksi ring-1 nya. Terdiri dari orang2 yg relatif yes-men, tidak kritis, dan sangat mungkin banyak menjilat, me-muji2 SBY sebagai ‘the one’. Walau soeharto juga punya kecenderungan ini – karena practically semua traditional culture, baik jawa, arab maupun cina dan eropa punya hal2 spt ini –  keduanya berbeda secara mendasar.

Penjilat SBY adalah mereka2 yg percaya (atau pura2 percaya) bahwa SBY linuwih secara intelektual dan pribadi, the-one yg cultural, bukan power-based.  Dan ini pula yg tampaknya dipercaya oleh SBY pribadi.

Dari sisi ini, SBY adalah jenis penguasa yg sangat berbeda dari soeharto. Yang diinginkan SBY bukanlah kekuasaan mutlak, bukan orang terkaya (walau tambah kaya / kuasa jelas tidak ditolaknya) di Indonesia, tetapi orang paling pintar, orang yg paling berjasa, dan juga orang yg (nantinya) paling dihormati karena jasa2nya.  Seorang pandita-ratu dg penekanan pada pandita.

Apakah ini berarti ideal? Kita lihat lagi nanti.  Karena sisi lain, kedangkalan emosi / jiwa nya (yg lagi2 kedangkalan ini tidak selalu berarti negatif – relatif normal untuk rata2 orang Indonesia saat ini, self centred – jelas dia bukan seorang yg selfless), membuat dia menekankan pada sisi yg paling practical: sisi yg tampak.

Nah, disini kita perlu menilai kultur Indonesia saat ini.

KULTUR

Budaya Indonesia adalah budaya yg sedang bergerak dari model full-traditional ke model masyarakat modern.  Perbedaan besar adalah dalam pemahaman kekuasaan / konsep sukses dan kekuasaan publik.  Secara tradisional, pemimpin adalah penguasa, spt sheikh arab atau OKB amrik, atau wangwee cina. Kaya bisa seenaknya, bisa seenaknya berarti kuasa. Jaman soeharto kita melihat konsep kekuasaan tradisional ini full-blast. Spt halnya jaman penjajahan, dan jaman2 tradisional lainnya.  Sampai kini semua birokrasi pemerintahan Indonesia masih full-soehartoist. Pemimpin harus enak : kaya, seenaknya. Dari anggota DPR sampai bupati2 sampai polisi dan jaksa semua masih spt ini, spt otak jan-pietersoen. Pemimpin tidak boleh kerja keras, tidak harus menuruti peraturan. Kita melihat kultur ini sangat kuat di polisi dan kejaksaan yg saat ini sedang berbenturan dengan KPK yg mencoba menerapkan kepemimpinan non-tradisional.

Kepemimpinan non-trad menekankan sisi kewajiban dari pemimpin publik, sebagai pemimpin publik / pelayan masyarakat (public servant) maka pemimpin bukanlah raja, bahkan pemimpin harus mendapat sistem hukum yg lebih keras dari rakyat biasa. KPK adalah organisasi non-trad spt ini di Indonesia. Sri Mulyani mencoba membuat organisasi pajak dan bea-cukai spt ini, beberapa (kata kuncinya: beberapa) bupati menerapkannya.

Obama adalah poster-boy non-trad ini, albeit pada level yg lebih tinggi lagi (penggunaan teknologi misalnya). Kekaguman SBY pada obama adalah good point – sayang so far SBY masih mencontoh kulit2 saja (pesta2 pidato dllsb).

Sebaliknya, Polri dan Jaksa adalah tipikal organisasi trad. Menekan orang kecil, baik rakyat maupun pegawai sendiri, menghindari hukum untuk atasan, men-cari2 hukuman untuk rakyat.  Ala jan-pietersoen (bagusnya buat si yan, dia  menerapkannya di negeri jajahan, bukan di negeri sendiri!).

Kita nanti akan menilai SBY ada dimana dalam nuansa trad-nontrad ini.
Sisi lain dari budaya Indonesia saat ini ada lagi tiga kata: legalisme, selebriti dan MLM (multi-level-marketing).

Legalisme adalah ciri sistem hukum amerika (budaya mandarin cina dan arab tradisional adalah juga legalist), yaitu “apa yg (kulakukan) tidak jelas2 terbukti salah adalah benar”.  Di dunia modern Amerika adalah sistem paling legalist, sedemikian sehingga seseorang bisa menuntut McDonald yg menjual kopi ke pembeli di mobil yg tumpah menyiram vagina pembelinya, dan dia menuntut ganti rugi besar.  Kita belum mencapai level itu kini, tapi arahnya jelas kesana.  Tampak pada kasus2 besar dimana rekaman dan intensi jelas pelaku tidak bisa memenangkan kasus, sebaliknya penguasa bisa seenaknya menyebar tuduhan ‘pencemaran nama baik’ yg tak berdasar.

Legalisme ini mempunyai sisi baik – kepatuhan pada hukum – tetapi istilah ini biasa dipakai untuk hal2 yg keterlaluan demi hukum itu sendiri, bukan demi keadilan (padahal hukum dibuat untuk keadilan). Sukses legalisme di Indonesia ini adalah suatu fenomena sosial yg menarik, ada faktor2 luar. Mandarinisme budaya cina adalah budaya legalist, yg menelorkan kongsi antara penegak hukum dan orang kaya (wangwee) spt yg sekarang terjadi di Indonesia antara sampoerna/ anggoro dengan polri/jaksa (dan dari dulu).  Islam juga agama yg legalist, dimana seringkali hukum bisa diatas keadilan.  Lalu pengaruh budaya amerika. Dan interaksi dengan faktor2 lain dibawah.

Budaya Selebriti adalah budaya dimana orang yg terkenal menjadi ‘elit’ alias linuwih, karena seleb nya. Jadi orang terkenal ‘pantas kaya’. Fenomena ini men-jadi2 di Indonesia sepuluh tahun terakhir. Manohara itu adalah contoh yg sangat dahsyat. Ribuan contoh lain. Status “seleb” (= ini julukan bagi orangnya) jadi status yg sangat dikejar.  Dan karena status ini mudah / murah di bagikan oleh pihak2 tertentu (produser tv / radio, artis, penguasa) maka jual-beli status seleb ini jadi currency tersendiri.  Lagi2 ini adalah fenomena yg sangat populer di budaya Amerika.  Selain itu, ada basis biologis untuk manusia ingin tahu / gosip orang2 yg terkenal. Fenomena ini baru jadi penting setelah akhir2 ini di monetasi (= di jadiin duit!). Dulu seorang seleb bisa miskin (ada artis tua yg bunuh diri karena banyak utang menjaga imaj seleb tapi gaji kecil), sekarang semua negosiabel.  Ini yg baru.
Lalu status ‘seleb’ itu sendiri yg sering di-parlay ( di sebar) ke sektor lain, seleb pengacara jadi artis, artis jadi anggota dpr dlsb. Bagi mereka2 yg sudah kaya mengejar status seleb ini jadi dorongan utama.

Ketiga adalah perubahan budaya yg sangat subtle sekaligus sangat kuat dalam mengubah sistem budaya Indonesia: multi level marketing /MLM.  Ide MLM awalnya hanya di sales / marketing, suatu cabang jalur penjualan, diawali oleh Avon dan Tupperware misalnya. Ya, lagi2 ini ini idea yg terutama dari Amerika, kemudian di adaptasi besar2an di Asia.  Dalam sistem ini penjualan adalah pendekatan personal seseorang ke orang2 yg kenal / percaya padanya.  Awalnya ibu2 menjual kosmetik dan barang2 klontong ke teman2 arisan, famili. Lama2 meluas, asuransi misalnya, menerapkannya secara besar2an. Lalu perbankan, dan practically semua bentuk, dan pelakunya juga sangat luas. Seorang penjual MLM tidak perlu punya apa2 kecuali koneksi / famili yg bisa di tekannya.
Ini meledak menjadi sangat luas kini, hubungan kekeluargaan jadi rusak, seorang keponakan yg manis sekarang bukan lagi hanya ramah, tetapi sangat ramah, dengan tujuan komisi MLM.  Lalu melebar ke non-material.  Perluasan MLM paling dahsyat adalah fenomena makelar kasus (MLM sesungguhnya adalah modernisasi makelaran / blantikan), spt kasus Sigid-Antasari kini. Transaksi MLM ini tidak cash lagi, yg penting adalah adanya mark-up tinggi yg di split. Sampahmu adalah harta karun bagi orang lain.  Di kalangan pejabat publik konsep ini sangat luar biasa. Polisi / jaksa yg mem’fasilitasi’ pertemuan pihak2 bersengketa (dan menekan satu pihak tentunya, buyer – seller dichotomi) untuk 10% – 40% (berkeringat atau tidak).  Anggota DPR yg ‘you scratch my back, I’ll do yours’.  Sangat marak.  Terutama bentuk2 yg non-cash itu.

Bisa dibayangkan kombinasi ketiga faktor diatas sekaligus: legalist untuk membebaskan diri, status selebriti untuk mendapat biaya, mlm untuk spread biaya dan tanggung jawab.  Kita bisa membuat studi kasus kompleks untuk kasus pembunuhan nasruddin oleh antasari-sigid-wilardi.  Bagaimana dengan kasus lapindo? Legalist mendapatkan sp3, mlm parlay status dan biaya.
Dalam skala2 yg lebih kecil jauh lebih meluas lagi.

Korupsi – ditinjau dari sisi ini, adalah suatu fenomena yg tidak bisa dihindari lagi. Semua tindakan ini harus ada yg meng-cover biayanya, dan biaya paling murah bagi semua pihak adalah OPM (other people’s money = uang orang lain, bagus lagi jika uang publik).  Korupsi bukanlah sesuatu yg “perlu dikikis” (ini slogan kosong saja) – karena korupsi adalah suatu kesempatan yg sangat dicari, kebanyakan orang tidak korupsi adalah karena tidak memiliki kekuasaan untuk korupsi.  Di negara Indonesia saat ini, orang yg berkuasa untuk korupsi tetapi tidak melakukannya adalah orang aneh, ini kemajuan dari jaman soeharto yg menyatakan mereka bukannya aneh tetapi “musuh bersama”.

ANALISA

Setelah melihat latar belakang spt diatas.  Banyak fenomena di Indonesia menjadi jauh lebih jelas.  Bagaimana banyak orang hanya pura2 bertindak sesuatu untuk mengejar sesuatu yg lain. Departemen2 sosial yg memberi dana bantuan secara sebarangan pada org yg datang (hanya syarat administratif spt punya keterangan polisi) asal mau meneken kwitansi blangko yg nantinya akan diisi oleh petugas itu untuk klaim ke atas dengan angka jauh lebih tinggi.
Atau bagaimana jaksa membuka ‘warung kejujuran’ di sekolah2 yg tujuannya menjebak anak2 sekolah yg relatif inosen (pencurian makanan warung most likely hanya pranks) – untuk menunjukkan ‘sudah kerja’ sambil menyiksa pihak lemah.

Apa yg seharusnya dilakukan?
Jelas pula. Bukannya tidak ada organisasi sosial di Indonesia yg sudah mengerjakan hal2 yg benar.
KPK, bea cukai dan pajak melakukan banyak perbaikan public  governance.  Harus mulai dari diri sendiri. Ketat. Hukuman yg jelas.  Penjelasan clear bahwa penguasa adalah ‘karyawan’, bukan demang atau bajak-laut.

Sebaliknya, apa yg dilakukan polri rata2 adalah contoh jelas kengawuran tradisional itu. Mulai dari struktur jendral yg kaya raya dan bintara yg kere, sampai sistem yg memungkinkan polisi menekan rakyat, lewat pengumuman aturan lalin yg alpa, ketidak adanya pelayanan yg jelas, mereka yg menghendakinya harus membayar.  Banyak sekali cara untuk mencuri / melakukan hal yg salah.  Sedikit jalan yg benar.

Tidak banyak cara untuk membangun suatu organisasi yg benar. Dan hal ini sudah dianalisa di-mana2. Etika kerja, sistem operasi yg benar, peraturan internal yg ketat, pemimpin yg akuntabel.  Sebaliknya tak terhitung cara untuk bertindak tradisional dalam memimpin, menerima berbagai jenis gratifikasi, dari yg goblog2an cash spt mafia purba, sampai yg transfer account asing dg asing (spt di sinyalir Sri Mulyani).  Belum lagi yg ‘non-cash trading’ spt BLBI dulu dan ribuan kasus sampai kini, termasuk lapindo.  Tolong aku, kau dapat cash dikit, ‘kartu bebas penjara’ plus support voters, plus omongan baik untuk calon besan ..

Soal ‘rasa bersalah’ juga gampang mengatasinya, bangun saja langgar / mesjid, dengan seed-money seratus juta juga bisa (duit plus pressure ke pejabat lokal .. lagi!).  Jelas kita mengapa dunia Indonesia membutuhkan orang2 spt markus artalita, sigid, eddy, sampai ke TK!

Bagaimana SBY dalam kancah ini semua?
Itu inti tulisan di bag 2.

25/10/09

Advertisements
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: