Archive

Archive for May, 2010

Munas PD dan Kepemimpinan Indonesia kini

May 25, 2010 Leave a comment

 

 

UPDATE 2012:  Seluruh isi tulisan ini tidak akurat, munas PD sama korupnya spt munas Golkar.  Terlalu optimistik, wishful thinking. PD sama spt Golkar hanya lebih amatir dan kere2.

 

Munas PD dan Kepemimpinan Indonesia kini

Munas PD kemarin, menunjuk Anas Urbaningrum (AU, 41) sebagai ketua umum adalah sebuah tonggak baru dalam politik Indonesia. Ini adalah munas partai besar pertama, yg benar2 bersih demokratis. Proses pemilihan benar2 transparan, dan ketegangan terjaga sampai detik terakhir bak Indonesian-Idol. Bukan negosiasi di belakang layar dan dagelan hambar di publik.
Dan bukan jual beli suara spt Munas GOlkar amburadul maksimum (masih kutunggu penyelidikan KPK – yg tidak mungkin terjadi – mengusut sogokan 1M persuara ke banyak pejabat2 negara itu)

Demokrasi yg sesungguhnya.
Sebelum kita gembor2 me-muji2 PD – banyak catatan harus diberikan disini.
Proses pemilihan PD ini demokratis, bukan berarti bahwa manusia2 PD ini sudah ‘advanced’ demokrasi nya. Proses di ujung ini menjadi demokratis, karena sabda (atau tiadanya sabda) sang-prez SBY.

Otak para kongres PD ini jelas2 – sama spt di PDIP kurang lebih – menunggu sabda si blendug. Ternyata sabda tidak diberikan, dan komentar2 yg semula berbau standar ttg pemilihan harus bebas tanpa pengaruh ternyata benar2 dimaksudkan demikian. Begitu kesadaran ini merasuk, maka pemilihan jadi lancar. AM tidak mendapat dukungan, AU dan MA kejar2an.

Seandainya saja – spt insinuasi selama kampanye, dg gabungnya ibas dan diamnya sby — sby menunjukkan sedikit saja “kedip2”, misalnya “ehm, ehm .. sudah saat nya kepemimpinan dari luar jawa..” pasti kongres ber-bondong2 nyoblos AM.

Jadi, kejadian demokratis dan bagus ini, tidak seluruhnya dilandasi oleh olah pikir konstituen yg sudah maju. Tidak. Mereka tetap menunggu sabda SBY – yg oleh berbagai sebab tidak turun. Implisit sabda nya adalah: cobloslah secara demokratis. Itu yg mereka lakukan.

Apakah ini berarti kejadian ini palsu dan tidak berguna? Tidak juga. Apapun alasannya, kejadian kemarin menjadi tonggak dalam artian: bangsa ini bisa juga voting demokratis. Sama spt KPK membuktikan bahwa koruptor bisa di tangkap (walau akhirnya kita lihat rata2 koruptor ya tidak ketangkap). Tidak berarti semua partai / ormas (bayangkan JAT nya ABB ngriku!!) mulai besok akan demokratis – vox populi vox dei. Tidak. vox dei akan tetap vox dei.

Tetapi, mulai besok jika ada ormas gembor2 demokrat (apalagi disebut di namanya) lalu mengatakan “beginilah demokrasi melayu” sambil nego di belakang layar dan bagi2 sogokan — kita bisa mengatakan “tidak”. Ada yg bisa demokrasi, PD.

Itu prosesnya. Hal yg paling penting.

Berikutnya, adalah mengapa? Why? ‘Ngapa SBy berbuat ‘nyleneh’ spt ini? Mengapa tidak paksa2 spt MW, atau sogok2 spt Cklz (= cakilz yg sekrang rahang pendek = Icalz)?

Sogok2 kurasa SBY tidak mampu. Nego2 dia jago. Why?
Lalu, kesan semula AM di dorong – anak bugis ini dengan blingsatannya berperan sangat mulus sebagai anak-gila-kaya, percis spt kakaknya yg dulu yak2o nyaprez.
Gencar, gebyar, gila2an, gokil, guwe kaya lo siape?

Didukung ibaz pula. Dan tak ada teguran barang segoyang dari sby.
Singkat kata, tampaknya seolah AM di dorong (atau setidaknya dibiarkan) untuk maju sebagai sang butho bedigasan (=tokoh jahat bertindak tidak sopan, peran antagonis jelas) dalam munas ini, menarik perhatian sebagai tokoh jahatnya, lalu dibantai dalam proses demokrasi beneran.

Cerdik khan? Plot ini ada thema “jual teman” – “jeblosin orang tidak tau diri”, selain juga menarik media dan twisted-end-plot – yg ada miripnya dengan karakteristik SBY.
Ini misteri politisnya.

Apakah semua ini disengaja? atau kebetulan? Spt halnya dulu komentar2 mubarok yg in hindsight cerdas, tampaknya ada suatu pola disini.

Apa yg dituju SBY? Ya yg kusebut diatas – membangun tonggak demokrasi – secara gebyar dengan “memberi pelajaran” AM si bugis yg mulai kurang ajar. Apa maksudnya? Juga dijawab mubarok dalam wawancara tv: SBY tahun 2014 akan jadi sekjen pbb.

Ini adalah “sangu” untuk sekjen – bukan lagi politik kampung neh!
“I am the person who mandated the first real democratic party election ….” kalimat ini bisa disemat. Buat Icals (dan pbw, bwk, wrt, mw etc dll) kata2 begitu blas gak pake .. hanya sby yg bisa pake.

Sampai disini membuatku tertegun. SMI ‘dikirim’ ke Washington, apa juga dititipi?

In any case. Aku tidak percaya ada pemimpin Indonesia saat ini yg benar2 memikirkan kepentingan rakyat banyak. Selalu ada kepentingan2 pribadi. Jadi niat selalu jelek, terutama karena banyak kegiatan yg tidak bisa ‘disambi’ – sambil menyejahterakan rakyat sambil numpuk duit. Tetapi tujuan sby yg ingin jadi sekjen PBB ini bisa2 merupakan pertama kali nya ada koherensi (kesamaan tujuan) praktis antara kepentingan rakyat dan kepentingan pribadi.

Dan apapun alasannya – ini hal yg dilupakan rata2 ulama, apapun alasannya – tindakan publik yg baik akan membawa akibat baik. Spt kusebut diatas, walaupun tindakan PD /sby ini berlandaskan niat pribadi yg jelek pun, tindakan nyata mengijinkan suatu proses pemilihan ketum secara adil dan sesuai kehendak pemilih –> akan berakibat baik pada demokratisasi Indonesia.

Itu sebabnya, proses pemilihan ketum PD ini merupakan hari baik bagi Indonesia — bukan munas golkar dulu yg merupakan hari kelam dengan di baginya duit haram ke pemilih (.. spt umumnya pemilihan di Indonesia).

24/05/2010

Advertisements

Sri Mulyani & Kepemimpinan Indonesia

May 19, 2010 1 comment

Kuliah umum SMI kemarin merinci apa yg terjadi di negara ini.
Koalisi (“kawin sesama jenis”) SBY dengan ical memang menjadi landasan utama kegagalan negara ini. Ancaman negara berkembang adalah: 1) diktator militer 2) diktator agama 3) oligarki penguasa-pengusaha (Pp).

Tipe 1 adalah standar yg kita pahami jelas dari jaman soeharto. Jaman Marcos, shah iran dllsb
Tipe 2 versi islam fundamentalist adalah ancaman dari al-qaeda sampai kesultanan saudi. ini ancaman sangat serius, yg untungnya ditangani oleh densus88 dengan relatif cukup (tidak optimal tetapi sangat memadai). Jelas contoh2 negara2 yg mengalami krisis ini, dari yg sudah final sampai yg ‘masih usaha’, di Mesir, sampai Somalia.
Tipe 3 adalah yg dari dulu relatif dianggap ‘agak aman’. Sekarang naik daun. Contoh paling jelas adalah Thailand masa kini. Thaksin adalah pengusaha-penguasa (Pp) yg sukses menghancurkan negaranya. Aku ajukan skenario: 2014 ical (atau kroni nya) naik jadi presiden, tahun 2016 gerakan oposisi menjungkalkan dia (tidak susah, karena selain oposisi pasti ada juga bukti2 korupsi akan mudah didapat) – spt Thaksin. 2018 balik ngobok = thailand 2010.

Skenario lain adalah kombinasi, Putin rusia misalnya, kombinasi 1-3. Di Indonesia relatif ‘mudah’ mengkombinasi 1-3 bahkan 1-2-3.

Ini yg harus di waspadai.
Dulu kurasa Sby pimpinan (temporer) Indonesia yg lumayan, karena dia relatif imun dari tipe 1 & 2. Terutama karena watak2nya yg militer pengecut, tanpa modal dan non-fundie. Ternyata dia tidak imun dari 3. Kurasa Sby tidak akan jadi diktator – tetapi sangat mungkin dia membuka jalan / memberi kesempatan pada oposisi yg tipe 3 ini.

One way or another, korban sesungguhnya bukanlah elit2 itu (mereka tinggal minggat ke LN, spt kambrat2 soeharto & HBB) — tetapi rakyat Indonesia, terutama ekonomi nya.

Orang spt SMI adalah harapan rakyat Indonesia.
Wawancara Wimar & Kristiadi di Metro siang hari ini (19/5/10) menggaris bawahi pemikiran ini. SMI adalah pencerahan kita – Kartini modern.

Ada cara hidup yg tidak menjilat2 pantat jenderal, ulama atau orang kaya — cara hidup beradab, modern dan bebas berlandaskan kesejahteraan bersama. Itu harus menjadi landasan negara modern, negara ada untuk kemaslahatan rakyat, bukan untuk mengangkat satu klan jadi perompak2 kaya …

Untuk itu, mundurnya SMI ini jadi setback jika kita semua menganggapnya begitu – dan melupakan nilai2 yg dijunjung SMI. Tetapi bisa menjadi kemenangan besar (bukan hanya untuk SMI pribadi – yg kuyakin memang benar kemenangan spt ucapan SMI) bagi rakyat Indonesia , jika kita menjadi sadar apa sesungguhnya yg kita cari dari bernegara.

Orang macam apa yg seharusnya kita dukung menjadi pejabat publik. Bukan kaya bedebah2 di DPR saat ini, pansus centuri itu – orang2 nya — cuih najis. nJeplak soal rakyat, orang yg sama mengkorup LC — lalu mengajukan proyek gedung DPR 2 trilyun penuh kolusi. Masih lagi nambah “minta jatah APBN” beberapa trilyun.

Mereka manusia2 rendah, walau kaya.
Yang kita butuhkan – memang mereka2 yg spt SMI (atau SMI sendiri, jika memungkinkan).

Selamat jalan SMI – trip to Washington ini adalah the break that you really deserved. Prestige, prestasi, exposure, salary tinggi – semuanya ini hak mu.
Rakyat Indonesia memang harus upgrade diri untuk tidak deserve jadi negara kere spt Somalia ……….

Mulai dengan memilah2 pimpinannya.

Setelah SMI mundur – membaca SBY.

May 10, 2010 1 comment

Tulisan ini mempunyai kaitan dengan tulisanku terdahulu ttg SBY – Analisa Psikografi SBY 1 & 2.

Perkembangan akhir2 ini semakin ‘lancar’ – dalam artian semakin memberi kita data lapangan ttg kondisi kultural bangsa ini, dan watak asli sang presiden nya (selain juga watak para bedebah lain2nya yg ada di eselon atas manajemen negara, bedebah2 polri kejaksaan kehakiman DPR misalnya).

Sri Mulyani (SMI) telah menyetujui kemunduran diri dari menkeu. Ini berita utama Tempo minggu ini (10/5/10). Dan benar. Ini adalah titik balik besar dalam sejarah Indonesia, juga dalam ‘rencana dinasti’ SBY. Tikungan utama.

SMI adalah embodiment (pengejawantahan ?) watak pembaruan bangsa ini. Dia yang intelektual, mumpuni manajerial, dan terutama – tidak berpikir merampok negara sebagai suatu ‘tindakan perlu’ untuk jadi tokoh seleb.

Itu kombinasi yg luarbiasa jarang bagi masyarakat yg rata2 tidak intelektual (hanya soekarno presiden intelektual, 3 yang lain bahkan super tradisional tolol, diametral dari intelektual); tidak kenal manajemen; dan sangat penting lagi – mendewakan ‘korupsi’ sebagai jalan alamiah untuk menjadi manusia.

Seperti telah kusebut sebelumnya, pandangan ttg korupsi di Indonesia sejauh ini masih sangat meleset. Beda dari slogan2 organisasi (termasuk KPK!) yg beranggapan bahwa ‘korupsi itu semacam penyakit sosial yg harus diberantas’ — anggapan manusia2 Indonesia rata2 korupsi itu adalah tujuan mencapai kekayaan yg paling mudah, jika satu saja syarat terpenuhi; bisa korupsi. Artinya, mereka2 yg tidak korupsi hampir dipastikan hanya karena mereka tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Orang2 yg mempunyai kesempatan korupsi, baik trilyunan seperti bakrie, atau milyardan spt anggota DPR, maupun jutaan spt kompol2, ratusan ribu spt ketua2 RT, maupun puluhan ribu spt anggota PKK ibu2 … hampir dipastikan melakukannya.

Memang ada yg mengembat 100% (semua yg bisa diembat – embat) ini kategori yg paling tolol. Sebagian besar mengembat 10-20% – sehingga bisa ‘langgeng’ – karena orang korupsi hanya jika tetap dipercaya melakukannya. Contoh paling gamblang adalah perbaikan jalan tahunan di dept PU. Perbaikan jalan kosmetik aja, pas setahun perlu dilakukan lagi –> bujet lagi, bagi2 lagi. Langgeng, bisa untuk membiayai anak sekolah di luar negeri, atau piara gundik. Lain halnya jika diembat 100% sekaligus, perbaikan tidak dilakukan samasekali, jalan hancur, rakyat protes, pejabat diganti. Gede tapi tidak langgeng.

Sejauh ini KPK rata2 hanya menyentuh kategori koruptor tolol ini — yang ‘merata’ samasekali tidak disinggung. Polri & kejaksaan tetap saja sumber koruptor.

Nah, dalam konteks terakhir inilah peran SMI sangat luar biasa (dua konteks pertama, kemampuan teknis dan organisatoris, sesungguhnya sudah jarang bagi rata2 orang Indonesia – tetapi kuyakin ada banyak yg bisa skill2 spt itu). Memang sangat tidak adil orang spt SMI dengan kewajiban menkeu yg benar2 disandangnya – di gaji 19 jt /bl (yg disebutnya ‘kaya bagi ukuran Indonesia’ itu) — di lingkungan dimana menteri2 lain “digayus” milyardan (ambil sendiri2 – yg resmi semua sama 19 jt), dan koruptor2 yg jadi anggota DPR ketua umum partai menggayus trilyunan. Didepan mata. Anak buah sendiri (mantan dirjen pajak misalnya) nggarong di departemen yg diperjuangkannya.

Jelas bahwa SMI ini asset besar bagi atasan yg “ingin memperbaiki manajemen negara agar sejalan dengan standar internasional dalam skill, management dan theft / korupsi”. Singkat kata, SBY.

Orang spt SMI ini jelas punya banyak musuh. Jelas. Pertama ada eks-anak buah (spt mantan dirjen pajak) yg dipermalukan dan dihentikan ‘aliran dana take-home-pay’ nya. Ternyata tampak bahwa misbakun PKS gelo itu juga bekas anak pajak yg merasa ‘ranah’ (benci aku kata palsu ini) korupsi nya jadi too-hot, dan pindah ke ‘greener pasture’ di DPR. Misbakun adalah gedibal hadi-p !!
Ini kategori musuh SMI yg primordial – karena sikap SMI membuat periuk nasi / berlian mereka terguling. Bagi meduro ini sudah kelas carok!. Bagi bugis ya badik lah. Jelas.
Lalu musuh kelompok kedua, orang2 yg ‘secara tidak langsung’ dirugikan secara organisatoris – non personal — misalnya pemegang saham perusahaan2 yg (sejak dari lahirnya) mengemplang pajak, spt perusahaan2 bakrie itu. Tumindak SMI ini merugikan trilyunan rupiah. Denda 4x lipat sih oke2 saja diatas kertas, gilanya SMI ini adalah menerapkannya sama ingsun! Org berjasa begini mau didenda 4x lipat! Carok! Badik!

Lalu ada yg semakin non-personal. SMI ini mewakili suatu aliran manajemen modern, yg non-tradisional, berarti non-raja, non-diktator, non-sheikh. Libas! orang2 ini belum tentu dirugikan secara material beda dari kelompok diatas (dalam hal misbakun rangkap2..) — jadi artinya mereka baru akan berteriak libas, carok jika .. ada ongkosnya!

Jelas bahwa ketiga kategori diatas inilah yg membentuk unholy coalition di pansus century (dimana “the Initial 9” termasuk si gila misbakun!).
Ini semua logis. Nalar. Jelas.
Rombongan ini masing2 punya alasan2 sendiri2 yg beda2 (ada lagi rombongan yg menganut kobokan massa: langkah pertama dari revolusi adalah anarki, jadi asal nambah chaos di masyarakat itu bagus buatku – sementara yg kategori ini kita lewati dulu) – tetapi arahnya jelas.

==

Yang tidak jelas adalah peran SBY di semua ini.
SBY adalah target akhir dari (setidaknya sebagian) gerombolan pansus ini kan? Tindakan2 SBY yg tidak membela SMI & Boed ini tidak segera nampak jelas.

Sekilas spt tidak nalar.
Seperti setiap kali kita melihat fenomena alam yg tidak ‘klop’ (spt mengapa buntut merak jantan sangat besar, di hutan hal itu jelas sangat merugikannya) – maka kita bisa belajar banyak ttg makluk yg melakukannya.

Si BuYa (ya – setelah di pikir2 — harus diakui demonstran yg membawa kebo dulu itu mempunyai insight ttg SBY 😀 – walo tidak semua yg di demonya ok) bukanlah makluk plontos spt MW atau HBB. Ada kompleksitas. Kita tahu Soe sangat kompleks, GD juga kompleks. SBY juga kompleks. Ada kompleks sunan-kuning, ada kram-tung. Lain2.

Hari2 ini kita melihat.
Jika Soe bisa membunuh golongan sendiri dan dipakai untuk memfitnah lawan (ini standar yg dipakai komunis maupun cia) — maka SBY dikenal bisa mengangkangi kemenangan kawan, dan menjual kawan untuk memeluk lawan.

Dalam dunia dengan kekuasaan lebih disperse spt sekarang, ilmu SBY ini bisa jadi lebih manjur daripada ilmu Soe (ya kita tidak tahu, apakah Putin bisa awet? prabowo tentu paling pengen tahu .. 😀 )

Tindakan SBY ttg SMI ini – dari permukaan seolah memberi kesempatan canggih pada SMI, tetapi sesungguhnya adalah move yg menolong diri sendiri — bisa disebut ‘masterpiece’ dari si buya ini. Mengapa? Karena sesungguhnya move jadi MD di BD ini benar2 move keatas bagi SMI — bukan dibuang. Secara pribadi aku sangat setuju SMI ke BD ini – suatu progress bagi karir SMI, dan uang halal setengah juta USD / th juga sangat sepadan bagi SMI.

Kesempatan kedepan, siapa tahu SMI bisa jadi apa tahun 2014 nanti? (bukan, bukan prez RI! maksudku karir internasional!)

Itulah yg pasti membuat SBY proud. Dia ‘menjual teman’ tetapi tidak sekasar dia membuat teman2 PD nya dulu. Ini adalah ciri SBY yg ternyata juga kuat. Walau dia sering menjual teman murahan, sesungguhnya jika mungkin dia ingin membantu mereka secara material atau lainnya (asal tetap yg utama paling menguntungkan bagi dirinya).

Watak SBY yg ‘mencari jalan tengah’ (di kudung kambrat2nya sebagai “win-win solution” yang biasanya artinya tidak bisa dibedakan dari makelar kasus ..). SBY /PD butuh dukungan partai besar, Golkar atau PDIP. Habis2an dia jilat2 PDIP, gagal karena emosi MW (yg juga sangat merugikan PDIP). Ke golkar dia ketemu partner dalam Ical.

Sayang Ical bakrie ini terganjal SMI. Negosiate2 gagal. Yang satu prinsipnya terlalu keras (SMI), yang satu taruhannya terlalu besar (kasus pajak 7T, kasus lapindo 33T …. belum yg belum terbongkar). Salah satu harus mengalah.

Sby ber-bulan2 terharu-biru. Oooh tuhanku, apa yg harus kulakukan. Ucapan wanandi ttg permintaan BD (nov 2009) benar2 jawaban langit. According to SBY.

==

Move2 minggu ini sangat cepat, SMI turun, ical naik ketua harian koalisi. Deal ini jelas sangat bagus bagi ical maupun golkar (tidak bagus bagi BS & mereka2 yg sudah
publicly committed ke pansus ..).

Ical selain bisa menarik future cash outflow yg trilyunan itu ke ‘more beneficial uses’ — juga bisa me leverage lagi control golkar ke koalisi, pemerintahan dan sby.

Sby dapat apa? stabilitas dari dukungan golkar -moga2 – sampai 2014. Ya 2014, karena jelas koalisi hasil jual-manusia beginian tidak akan langgeng. Bayaran ini sangat murah bagi ical. Practically gratis.

Mengapa SBY merasa ‘cukup’ ? Ini pertanyaan berikutnya. Short term benefits against long term losses. Inti dari aji mumpung, terutama jika status quo sudah profitable. Atau dari psikografis, ada orang2 yg merasa dirinya the-one, bahwa tuhan selalu melindungiku hari demi hari. Jual beli ke ical ini adalah ‘tangan-tuhan’ hari ini, besok ada lagi.

Ya. Ini adalah jual beli.
Ini ironi yg paling besar dari “satgas mafia hukum” nya SBY.
Jual beli kasus ical dengan dukungan politis ke PD ini — apa bedanya hal ini dengan yg dilakukan oleh Syahril Djohan? Atau Sigid?
Markus level tinggi tidak bisa dibedakan dari ….

==
Bacaan terahir ttg SBY adalah ini: semua ucapan2 idealistik ttg anti-korupsi dll itu tidak dia pahami benar2. Pada ujungnya kebo ini hidup dari hari ke hari, asal hari ini aku lebih baik (sugih, mukti, nyeleb) dari kemarin maka berarti tuhan memberiku jalan…

Seribu dua ribu tahun yg lalu, diktator raja spt ini mungkin memadai (daripada diktator yg makan orang ..) — saat ini 2010 sama sekali tidak.

Kembali pada ironi menyangkut SBY ini: orang ini jelas tidak qualified untuk memimpin negara ini — tetapi diantara pilihan2 yg ada (calon2 prez 2009 maupun tokoh2 politis saat ini) dia masih paling mendingan.

Minggu ini dia kehilangan ‘cakar naga’nya yg terpenting, SMI; — sedangkan cakar macan nya, KPK juga mulai buntung; cakar-setan nya – densus88 — mulai tidak relevan.

Yang kususahkan dari SBY ini – pikiran untuk mencelakakan dirinya akan lebih mencelakakan rakyat Indonesia. Jadi, teman2 — jangan berpikir untuk mencelakakan SBY. Musuh2 bangsa ini adalah bedebah2 palsu yg ada disekitar pemerintahan.

Lihat saja, membangun gedung DPR 1.8T ?? Untuk tujuan komisi proyek ini mereka2 sampai menyebar fitnah gedung miring 7 derajad ?? (padahal pisa cuma 3.9 ??).
Manusia2 macam apa mereka ini? Jika kita katakan SBY rendahan, maka bagaimana mereka2 ini? menyebar fitnah tanpa merasa bersalah sama sekali. Bakunisme = melakukan kejahatan publik tanpa malu sama sekali, seperti yg dilakukan misbakun anggota dpr PKS: setelah merampok century, memimpin pansus untuk memfitnah!
Bakunisme ini kejahatan yg luarbiasa nista, dan sekarang populer …

Sayangnya, dunia nyata tidak peduli apakah SBY rendah atau tinggi. Masyarakat yg gagal adalah masyarakat yg tidak berhasil menerapkan prinsip2 kemasyarakatan yg berhasil — apapun alasannya.

Selamat jalan SMI!
Time to think for yourself and humanity in general …

Categories: Uncategorized Tags: