Archive

Archive for the ‘demokrasi’ Category

Analisa SBY – part 2of2

November 19, 2009 Leave a comment

SBY jelas fenomena menarik. Kepribadiannya jelas2 menunjukkan seseorang yg berjiwa tradisional, ambisi tradisional – bahkan purba. Waktu pemilu 2009 sekalipun, dia masih ketakutan di ‘santet’ (buat kalian yg tidak paham, santet artinya diserang memakai ilmu gaib, ilmu hitam memakai jin setan), sehingga dia berangkat voting dengan di bacain ayat2 yasin di dalam mobil nya ….

Dia juga seorang yg tertipu mentah2 oleh con-man (=penipu) ngaku bisa mengubah air laut menjadi bensin, dan cukup tradisional untuk menunda pengumuman kenaikan harga bensin (menjadi 6000 rp) sampai ‘blue energy’ itu siap (bensin ndeso dari air laut ini rencananya dijual 3000 rp .. profit 100%).  Jadi dia tidak sungkan2 ‘menyesuaikan’ tugas publiknya dengan proyek pribadinya.  Tentu saja, jika sang blue-energy (ternyata di internet scam banyak..) ini ternyata benar maka SBY pasti dapat nobel, selain milyaran uang sah.

Lalu padi unggul super-toy – yg ternyata singkatan dari super toyung (bukan too young! toyung adalah nama thole jawa sang penemu) penipu amatiran. Supertoy HL-1, HL inilah nama teman SBY ndeso.  Ring-1 (lingkaran kepercayaan) SBY adalah orang2 spt HL ini. Arogan, tidak mau tahu dunia.
In a way, SBY sendiripun demikian.  Dan ‘you cannot argue with success’ – jika monyet memperoleh buah matang dari kebon tertentu, dia akan selalu balik kesana, apapun alasannya. Tidak akan percaya omongan bahwa hal itu tidak baik.

SBY adalah fenomena monyet itu, dia tidak tahu banyak, mungkin awalnya juga tidak percaya sendiri, tetapi ternyata ‘dapat buah enak’, jadi something must be right about me. Kuat sekali.

Pada awalnya, SBY amat gamang, dia bukanlah politisi senior waktu naik 2004, malah dia terlalu banyak mengobral janji. Tetapi lama2 tidak lagi. Psikografis SBY juga menunjukkan watak ruthless, watak tegaan. Ini tidak aneh untuk didikan akabri, walau yg paling lemas pun.
Biografi nya (yg non endorsed) berisi bekas2 teman yg kecewa, karena SBY mudah mengganti temannya spt mengganti baju.  Hanya ‘celdal’ nya – HL dkk – itu yg dipakai terus .. Yg lain dengan mudah dia lempar.

In a way ini adalah suatu hal yg normal2 saja, tidak jelek. It is all a game, man. Di pemilu 2009 ini SBY telah meningkatkan teknik permainannya berlipat.  Bukan berlipat dalam arti bagusnya, tetapi berlipat dalam teknik detail.
Body language nya lebih refined, kalau 2004 dia bergerak spt wayang golek, sekarang spt wayang kulit (tetap wayang..).
Tetapi yg lebih refined lagi adalah advisor politiknya. Dari ex-golkar dia melihat banyak advisory modern yg bisa sangat akurat. Walau calon2 lain (terutama prabowo) juga menerapkan ilmu2 komunikasi modern, tetapi SBY adalah yg paling smooth. Jasa dari 3M (malarangeng) tentunya. SBY menggunakan ilmu2 komunikasi modern ala seseorang memakai blackberry, dengan keluwesan yg jauh diluar kemampuan megawati, bahkan juga JK (prabowo yg mungkin bisa menandinginya, jika saja basis massa nya memadai).  Seberapa jauh ini jasa orang2 sekelilingnya (3M) tidak jelas, tetapi SBY nampak sangat mampu ‘mengambil alih keuntungan orang lain’. Hal yg dikeluhkan teman2 2004 nya.  Juga hal yg tampak jelas pada progres Depkeu dan KPK.

Periode 2004-2009 itu ditandai secara positif oleh 3 hal: perbaikan pemberantasan korupsi oleh KPK, perbaikan depkeu oleh Sri, dan perbaikan anti-teror.  Ketiganya tidak diatur langsung oleh SBY, jasa SBY lebih merupakan “mengijinkan hal2 baik itu terjadi” dan melegitimasi hasilnya dengan meng-claim sebagai hasil karyanya. Walau di awal 2009 ini semua jadi aneh, waktu SBY membiarkan KPK (yg tampaknya dinilai tidak menghargai SBY pribadi setelah menindak besannya hanya karena diijinkan – dalam logika priyayi, di kasus spt itu seorang priyayi harus ngomong mengijinkan secara publik, lalu punakawan yg baik ‘tahu diri’ dengan tidak melakukannya – hal2 yg jelas2 tampak pada kapolri dan jagung, tidak di KPK).

Lalu kapolri jelas2 mau meng-hijack keberhasilan anti-teror densus88, dan meng-inject love-of-media ala SBY, dengan hasil kalang kabut. Profil kapolri BHD, dan jagung HS adalah profil ‘public servant’ yg tampaknya disukai oleh SBY. Ini payah buat SBY.
Tampak jelas bahwa kedua orang ini juga meniru body-language SBY (ya, salah satu cara melihat pengikut setia adalah menilik body language mereka), termasuk bertingkah (pura2) ambigu. Mereka berdua juga sangat antusias waktu ‘diminta’ menggembosi KPK yg kurang njawani itu.

Kedua pemimpin polri dan kejaksaan ini – dalam Kabinet baru SBY, KIB2 dipertahankan – adalah jelas2 contoh yg menghawatirkan ttg SBY.  The dark side.

Supertoy, blue-enery, HL dan ring-1 lain, adalah the ugly side.
Ada lagi, Ibas, keluarga, cucu (dan implisit besan – kakek dari cucunya) adalah the private side.  Jelas SBY – spt halnya priyayi2 umumnya – punya ambegan besar ttg mereka ini.  Selama pemerintahannya, SBY sangat ‘gesit’ bertindak, pada saat2 menyangkut the private side ini. Kasus kawin siri dihajarnya habis, kacang dihajar palu. Kasus ‘sms ibu ani’ juga kenthos di pendhel. Keluarga wajib di nomor satukan bagi priyayi, jadi tindakan2 ini bisa saja overacting protection, hanya pada ibas dia punya real affection.

SBY tidak mudah dibaca, karena dia very private – perjalanan hidupnya banyak di persulit orang lain, sehingga dia tidak mudah percaya.  Dia bukan smooth operator politics, tetapi mengapa 2009 dia bisa menang landslide?

Ini pertanyaan yg sangat penting bagi politik Indonesia.
Aku curiga bahwa jawaban utamanya (lagi2) adalah suatu kebetulan. Partai Demokrat (PD) nya SBY dengan lugas menggerakkan lagi mesin pemerintahan, dan menerapkan somewhat modern political campaign, pada saat partai2 lain setengah hati. PDIP tidak bisa diharap selama masih dipimpin MW. Golkar in disarray. PKS yg juga hati2 & mikir ternyata maju pesat juga. Juga Gerindra.

Yg membuatku berpikir adalah statement pejabat PD Mubarok ttg golkar – yg dulu tampaknya spt foot-in-the-mouth goblog pisan, ternyata merupakan suatu ‘strategi’ (atau tanpa tanda petik??) yg sangat bagus untuk memecah golkar dari PD, dan sekaligus memaksa JK maju sendiri, yg pada gilirannya akan memecah Ical dari JK secara gemilang.  Mubarok bukan tipe orang yg bisa berpikir sedemikian panjang, walau mulai sekarang SBY (dan calon2 lain!) akan berpikir kesitu, kurasa waktu itu (2008) jelas tidak mungkin selain kebetulan.

Manuver2 PD setelah pilpres – lagi2 Mubarok membuat statemen ttg PKS kini – juga posthoc amat cerdas. Kali ini yg dilabrak adalah PKS. PKS adalah partai yg harus diperhatikan di Indonesia (ini perlu analisa terpisah), dan tampaknya SBY juga mulai menganggapnya perlu. Move pendekatan golkar dan PDIP, di tutup dengan penunjukkan menteri2 KIB2, jelas berakibat pelemahan partai2 lain, terutama PKS. Apalagi (kebetulan?) ada ‘reality show’ terorisme isfuns. PKS tiarap.

Dengan penguasaan DPR serta eksekutif, sebenarnya move2 SBy / PD itu seperti mengobok empang di halaman sendiri, tetapi tetap saja move2 ini cerdas. Politically astute. PDIP misalnya, meletakkan TK di MPR sesungguhnya spt risky, karena pengaruh PDIP bisa kesitu, tetapi jika kita tahu detail siapa TK – hal ini tidak risky sama sekali!. Justru ini bayaran murah untuk penggembosan PDIP.
Move di golkar kurasa worthy soeharto-awards of political pengobokans. JK jadi spt wayang golek putus tali-gocinya …

Ical mungkin bisa bahaya, tapi itu nanti.  Sementara ini jelas PD melakukan hattrick. Habis semua poin disikat SBY.

Sampai sini, kurasa analisa SBY ini ‘sukses’. Ya. jelas bahwa dalam dunia keruh Indonesia ini (karena budaya2 pincang, legalist, seleb dan mlm itu tadi), SBY sukses memperalat semua pihak untuk kepentingannya.

Bahkan setting di KPK itu semuanya menguntungkan SBY, dengan Plt yg ditunjuk prez, kurasa KPK akan berubah ‘sesuai salatan’. Lagipula, sekarang semua kartu di tangan SBY, tinggal nunggu salatan, dia bisa ‘menjual’ kapolri dan jagung – kalau angin kesana — atau menggantung keduanya to dry. Sambil agar jadi duri bagi KPK dan LSM2 lain.   Ini semua worthy of soeharto awards lagi!

Even Sri-Mulyani, yg kesuksesannya menggiring fiskal negara hampir2 melambungkannya ke upper echelon of celebdom, juga ‘put into her proper place’ dengan kasus Century.  Sekarang the light on the tunnel bagi Sri adalah lewat cikeas ..  kalau dia kerja bagus dan setor lagi oke lah, kalau nggak ..

Hampir tidak masuk akal ini semua. Mubarok tidak mungkin merencanakan ini semua, even SBY. 3M big maybe. Atau semuanya luck? numerology 9 itu? Katanya SBY very lucky karena dia ‘menyedot’ semua keberuntungan negara ini buat dirinya – akibatnya selama pemerintahannya akan banyak sekali bencana untuk ‘setoran jiwa’? he he … even worse than numerology …

Whatever way you pull it, SBY jelas on a roll.. untuk dirinya.
Pertanyaannya lebih pada: untuk rakyat Indonesia bagaimana?

AGREGAT

Pertama, sedikit ttg apa itu ‘untuk kepentingan rakyat banyak’.  Secara tradisional kejayaan suatu negara itu adalah kejayaan rajanya, semakin rajanya hepi semakin hoho. Tradisional (anda pikir sendiri menurut anda pribadi agama / kepercayaan masing2). Secara modern jelas tidak begini.
Bagaimana?

Sekarang ada banyak data2 monitor kemajuan / kemunduran suatu masyarakat / negara. Yaitu data2 agregat. Paling kotornya adalah angka GNP / growth (ingat debat SBY-Pbw yl ttg growth). Lalu diperhalus dengan angka kemiskinan, gini index, angka pengangguran, growth per industry, angka kemakmuran, indeks kebahagiaan, pendidikan, tersedianya kesehatan dllst.

Angka2 ini agregat – artinya rata2 statistik. Ini tidak sesuai ‘akal sehat’ yg biasanya sangat personal. Secara evolusi manusia tidak siap pada angka2 agregat statistik. Yg penting adalah dirinya sendiri. Ini yg sering sulit. Banyak anggota DPR tidak bisa mengerti naiknya kemiskinan rakyat kecil, karena bagi dirinya sejak puluhan tahun hidup didunia ini justru tahun2 inilah dia paling makmur (min 1M pertahun), bagaimana bisa disebut ini jaman susah?  Juga famili mereka.

Problem kedua dari angka agregat adalah akurasinya. Angka2 ini didapat lewat survey dan polling (sering di kelirukan pooling) publik. Proses ini sangat rentan penipuan yg subtle. Survey dg sample yg salah akan menghasilkan data yg salah, padahal menentukan sample yg bener itu susah sekali (artinya sangat gampang jadi salah: ada ribuan cara untuk salah, sedikit cara bener).

Di jaman soeharto survey2 dan sensus worthless, karena semua ngawur. Sekarang jauh lebih baik. Quick counts selama pemilu sekarang sudah dengan teknik paling maju. Walau banyak yg berusaha mengelabui.
Itu sebabnya data2 spt ini harus dibaca ‘with a grain of salt’ artinya full-curigation mode on.

Dengan analisa begini, SBY tidak perform well. Angka2 riil tidak menunjukkan kemajuan berarti. Periode lima tahun yl, Indonesia spt kapal yg nakhodanya di kamar terus, kapal tidak sampai karam karena kelasinya ada yg kerja keras, tapi nakhoda cuman keluar kalau urusan pribadi ..

Hal lain lagi juga bisa di analisa dari sisi decision making nya. Apa saja yg telah dilakukan oleh pemerintahan SBY selama ini?

Ini juga troubling, menteri yg kerja untuk rakyat ada berapa? Sri mulyani. Siapa lagi? Diskusi malah kearah lain, kerja apa sih menko kesra? mensos? menaker? menperin?

Secara umum menteri2 Indonesia masih perform sama spt polisinya, yaitu self-preservation.  Seperti demang atau ambtenaar penjajah, yg mikiri warna cat interior kantor (atau istana)nya lebih lama, aktifitasnya rutin dan seremonial.
Rata2 tidak berbuat apa2.

Kita lihat, kebijakan sosial yg dibanggakan SBY adalah .. BLT (bantuan langsung tunai) – yg jelas2 cara paling bodoh untuk memakmurkan rakyat (uang cash diberikan pada orang miskin – jauh lebih baik untuk perbaikan infrastruktur mereka, juga jauh lebih sulit), tetapi sangat efektif untuk self-preservation presidennya.

Kebijakan pendidikan? ketenagakerjaan? semua bisu. Kebebasan pers sangat bagus, tetapi ini bukan akibat suatu tindakan khusus dari pemerintah, dari pemerintahan yg ada tindakan2 membatasi spt dakwaan2 pencemaran nama baik, yg tidak selalu berhasil.

Secara umum, 2004-2009 ditandai oleh bagusnya tindakan defensif fiskal untuk tidak ikut resesi global besar2an, perbaikan pers, perbaikan anti-korupsi dan perbaikan anti-teror.  Ancaman isfuns tidak hilang tetapi berkurang besar.
Yg lain? perdagangan ‘jatuh ke cina’ spt umumnya negara2 di dunia. Tidak ada perlawanan apa2. Perbaikan perburuhan tidak ada. Memang sangat sulit untuk memperbaiki satu sisi facet tanpa yg lain, selain juga sangat mudah untuk tidak berbuat apa2.

Korupsi ditangani tetapi tidak berkurang sama sekali, spt halnya status seleb, status koruptor tetap merupakan harapan baku di Indonesia.
Secara umum, Indonesia tidak menjadi negara hancur (fiskal roboh, dikuasai isfuns, militer gila2an, teroris bebas dllsb), tetapi ranking nya di kalangan dunia juga tidak membaik. Banyak negara mengalami kelesuan industri dan dagang, Indonesia idem.

SKENARIO

Menilai SBY menjadi kompleks. Kita tidak bisa menganggap dia pintar karena phd, hebat karena menang pilpres, sama spt beruntung karena angka 9. Yang bisa kita lakukan, tebakan kedepan.

Ada skenario pesimis dan optimis.

SKENARIO PESIMIS

Mudah ditebak. Sekarangpun muncul kecil2an: SBY akan menjadi little-soeharto. SBY membangun mataram-wetan. Gosip2 ini tidak meledak, karena memang terasa palsu. SBY pasti tidak akan menjadi soeharto. Soal mataram-wetan ada benarnya, sisi priyayi2an tradisional SBY yg bisa2 menguat, tetapi ini tidak terlalu relevan untuk analisa kepentingan rakyat. Walapun seorang pemimpin dirumah nya berpakaian lenong tidak berarti banyak bagi rakyatnya. Ini juga berlaku untuk bullshits about nines.

Yang lebih akurat adalah tudingan2 lain berbasis fakta spt dari LSM. Pertama, bahwa SBY hanya lip service untuk anti korupsi. Walau mengclaim keberhasilan anti-korupsi, bertindak ala pilatus waktu KPK mau disalib. Kurasa posisi SBY dalam kasus KPK lebih mirip Anas-Kaipas, bukan Pilatus (!).
SBY akan melindungi konco2nya, dari bakrie group sampai CIA. Anti korupsinya pasti tebang pilih. Ini sebagian pasti (ical) sebagian lagi ridiculous.  Jelas bahwa watak priyayi SBY mengharuskannya punya ‘dalem’ yg sugih bondo buat ngapa2 yg perlu dana.  Jadi akan ada grup2 yg dia ‘preferential’. Ini gombal tapi ABB (apa boleh buat)

Kedua, profesionalisme SBY hanya lip service, sesungguhnya dia full-politicos. KIB2 ini isinya juga dagang sapi saja, cuma sekarang dagang sapi nya beda, there is a new boss in town, semua ‘sapi’ harus liwat bandar yg sama. Setelah masuk masing2 akan menjalankan policy partai / pribadi sendiri2 ala mskaban.
Tuduhan ini real, tapi in other way, modern states memang very political. Ya di Jepang ya di Australi, ya di Amriki. Lebih penting apakah akan ada pressure untuk lebih profesional? Karena untuk politicos, jika ada pressure kesana, public, maka dia akan profesional. Politicos are whores. Yang penting adalah menghindari the whore jadi diktator ..

Ketiga, SBY tidak memahami kesejahteraan rakyat yg sesungguhnya, yg dia prioritaskan adalah melanggengkan kekuasaan partainya, launching ibas to the top, dan jadi sekjen PBB buat pribadinya (plus nobel will be nice).  Semuanya di geared toward these goals, bukan kesra yg cuma lip service. Well, the private parts most likely true, soal kesra sesungguhnya .. dia nangis kan waktu ke sidoardjo?

Terakhir, tidak ada yg menuduh SBY akan membentuk diktator militer atau diktator agama (Islam).  Ini sudah kemajuan ..

SKENARIO OPTIMIS

Suara2 optimis juga bukannya tidak ada.
Yang menyatakan bahwa SBY melakukan ini semua, piecemeal progress, bukan by choice, tetapi karena dia ingin negara ini maju tanpa gegeran.
Misalnya, kebebasan pers, menjadi landasan dari masyarakat madani yg nanti akan menuntut terus.
Lalu pemberantasan korupsi juga tidak boleh terlalu ‘kasar’ – harus step by step ala priyayi, ndak boleh grusa grusu kaya KPK hongkong. KPK emang harus ditegur, karena 2 hal. Pertama penangkapan besan is bad enough, tetapi ada anak buah Bibit yg lalu ngomong kasar ttg SBY & fam. Kedua sistem gaji nya kegedean.
Cara ‘menegur’ nya yg kurang afdol – untuk inipun SBY sudah menyesal. Tapi benar he meant it when he said to Kompas bahwa KPK terlalu jumawa.
Perbaikan di polri dan jaksa (dan pemerintahan eksekutif secara umum) juga akan dilakukan. Sekarang ini 2009-2014. Periode yl masih banyak masalah.

Hal yg sama pada kesejahteraan rakyat. Pada periode yl telah banyak eksperimen ttg pemerintahan yg lebih baik, dari kabupaten2 yg berhasil. Sekarang bahkan ditunjuk Kuntoro khusus untuk ini. Periode ini akan ada perbaikan besar2an pada sistem kerja eksekutif. Rakyat akan dilayani.  Kesejahteraan minimal rakyat akan di prioritaskan.

Ini juga akan terjadi pada pendidikan dan kesehatan masyarakat. Pelayanan publik akan meningkat pesat.

Ketiga, sistem ekonomi akan di ubah menjadi lebih aktif, bukan sekedar pertahanan fiskal, tetapi juga secara agresif membangun industri baru.

Semua yg dilakukan SBY adalah bagian pertama dari suatu rencana panjang obama-like. Itu sebabnya SBY / PD menghendaki koalisi semua partai agar tidak lagi pertentangan yg tak perlu.  SBY pribadi akan bertindak sebagaimana seharusnya seorang pemimpin modern. Apa yg terjadi selama ini adalah karena SBY harus bertindak setengah2.  Kiblatnya adalah obama. Ini semua tertuang di kontrak para menteri KIB2.

KONKLUSI

Analisa ini jelas berputar untuk suatu ujung yg menjadi tidak jelas. Naiknya SBY sejak 2004, dan terutama pada tahun 2009 ini, jelas fenomena penting. Indonesia melewati suatu masa sulit post-soeharto, dan in a way cukup beruntung. Apa yg terjadi sejak 1998 adalah ketidak-pastian, suatu reaksi wajar dari jatuhnya seorang diktator, masyarakat yg terpimpin kaku sekarang harus membentuk pemerintahan yg berdiri sendiri. Presiden2 awal, dari HBB, GD sampai MW bisa dikatakan transisional, mereka sibuk terutama hanya dengan dirinya sendiri. Ada hal2 baik yg terjadi, terutama sejak GD, dengan kebebasan pers, dan KPK. Tetapi perbaikan riil tidak jelas. Tidak pernah benar2 diusahakan.

Pemerintahan SBY 2004-2009 adalah transisi lain, yang jauh lebih tenang. Dengan flashback, sesungguhnya periode itu sudah cukup sukses hanya dengan ‘tenang’, mengingat ancaman2 kekacauan sosial tadinya sangat keras. Isfuns terutama, bukan hanya ancaman ideologi, tetapi sudah perang terbuka spt di Aceh, Maluku dan Poso. Juga serangan teroris2 isfuns yg ber-tubi2. Sampai sekarangpun ancaman isfuns ini tetap ada, karena tidak semua langkah yg bisa dilakukan diambil (dibanding Malaysia dan Singapura misalnya). Tetapi bisa dikatakan ada kemajuan penting.
Secara ekonomi, kestabilan dalam negeri adalah stimulus terkuat. Memang tidak ada kemajuan lain yg intrinsik dari industri sendiri, semua tergilas cina, spt halnya negara2 lain.  Secara fiskal, ada ancaman krisis baru yg bisa dihindari.

Antikorupsi bisa dikatakan maju pesat secara konseptual, dengan bisa hidupnya lembaga spt KPK. Secara konsep maju, tetapi secara kwantitatif sesungguhnya tidak terlalu berarti.  Korupsi tetap meraja lela di semua lini. Bedanya sekarang Indonesia bisa mengatakan secara nyata bahwa ada koruptor di tangkap.
Sebenarnya KPK bukan terlalu kuat, tetapi masih terlalu lemah. Semua koruptor yg ditangkap KPK adalah mereka2 yg terlalu gila, masih menyetor tunai (lihat jaksa Urip, hakim KY, anggota2 DPR). Dan KPK masih membatasi diri pada kasus2 tertangkap tangan spt itu.  Sesungguhnya jelas bahwa prosentase koruptor goblog yg terima cash spt itu pasti sangat kecil dibanding koruptor2 lain yg lebih canggih dengan cara2 lain dan diluar jangkauan KPK (kemampuan menyadap KPK adalah kekuatan penting).

Tetapi jelas juga, bahwa di negara dimana sebelumnya maling besar tidak pernah ditangkap, adanya KPK adalah angin sangat segar. Ini suatu paradigm shift.

Tetapi progres KPK ini bukanlah jasa SBY, paling banyak yg dilakukannya adalah tidak mencegahnya.  Walau ini jelas2 suatu kemajuan, karena soeharto pasti mencegah organisasi spt KPK ini, tetapi ini adalah suatu ‘jasa’ yg amat kecil.
Ditambah peran Kaipas SBY dalam persidangan KPK kini adalah suatu big minus untuk SBY.  When push come to shove, tampak SBY kemana (bayangkan jika ada kasus KPK menyangkut Ibas …)

Skenario optimis diatas juga sangat berdasar pada masa depan, hal yg saat ini tidak bisa dinilai.  Memang ada indikasi lamat2 bahwa akan ada perbaikan dalam governance (menteri2 parpol itu harus diawasi). Juga ada wapres Boediono kini, yg jelas the highest office ever sat by a moral person after kapolri hoegeng. Walau apa yg akan terjadi belum tentu bagus, ada ingredients untuk itu.  Menkes fiasco itu menunjukkan bahwa SBY masih harus terus diuji kemampuan manajerialnya, tetapi the end result, removal of ex-menkes itu jelas a good thing. Apakah Endang yg diangkat ini akan jadi bagus itu yg tidak jelas.

Yang berikutnya harus diganti adalah kapolri dan jagung.  Kurasa SBY tidak melakukannya, hanya karena dia tahu banyak orang mengharapkannya berbuat begitu. Ini psikologi priyayi pinggiran yg lagi naik daun.
Psikografi SBY ini memang agak payah, jika dia di test psikografik spt menteri KIB2, kurasa akan gagal .. 😛

Skenario pesimis itu berbasis pada banyak kenyataan, sebaliknya SBY belum tentu jadi yg paling menentukan dalam pemerintahan nanti (dia selalu offhand kecuali jika menyangkut ibas .. :P) – dan itu akan ketangan Boed, Kuntoro, Sri, yang bisa2 the best collection of Indonesians ever put into same cabinet.
Jadi sebagian skenario optimis itu bisa pula terjadi, selalu ada the first time.

Apa yg perlu kita lakukan? Sebagai stakeholders, yg perlu kita tekankan terus adalah fakta / kenyataan.  SBY ini bisa berbuat banyak kalau dia mau – at least dia bisa mengangkat orang2 yg tepat lalu membiarkan mereka kerja bebas, tinggal nanti hasilnya di aku2 waktu kampanye.  Dia bisa berbuat begitu.  Tidak luarbiasa, malah agak licik.  Tetapi itu sesuai dengan karakternya.

Ya. Kita semua harus tahu bahwa pemimpin2 ini adalah manusia2 biasa, yg seringkali licik dan personal. Tetapi orang licik juga bisa berbuat benar, misalnya ya itu dengan mengangkat orang benar lalu membiarkannya kerja.
Itu yg terbaik yg kita harapkan dari SBY. Jika dia turun tangan sendiri, bisa2 malah bikin industry ‘red-energy’ besar2an …. red being the lucky color for ibas … Jangan me-muji2 orang ini terlalu besar (calon sekjen pbb, pemenang nobel) atau superman lainnya. He ain’t. He is OK, but not that good ..

Tentu saja, ini juga cuma berlaku bagi anda2 yg tidak terlibat langsung, baik numpang seleb maupun lagi makelaran ke istana. Dua ratus juta plus of you ..

25/10/09

Menganalisa SBY – part 1of2

November 19, 2009 Leave a comment

Menganalisa SBY-1

Debu pertempuran sudah mulai reda – setelah detik2 terakhir SBY kembali mengaduk debu dengan kasus menkes – mulai nampak hal2 yg tadinya buram penuh kabut.

Menganalisa SBY adalah suatu hal yang perlu, dia adalah presiden publik, dipilih rakyat banyak – termasuk penulis – dengan ekspektasi tinggi, dalam suatu periode sejarah Indonesia yg bisa dibilang cukup kritis untuk mennetukan masa depan jangka panjang negara.

MANUSIA

Menganalisa manusia sebagaimana adanya tidaklah sederhana. Untuk tahu ttg simpanse aja Jane Goodall harus nongkrong bareng puluhan tahun. Tentu saja, kalau kita bisa tiap hari nongkrong di wc cikeas, tak perlu puluhan tahun kita tahu SBY.

Maksudku, SBY ini – layaknya manusia – adalah benda kompleks, untuk memahaminya kita perlu melihat latar belakang, apa yg “make him ticks”, latar budaya, emosional dan cita2nya.  Banyak hal tidak bisa diambil at-face-value saja, misalnya karena SBY ini PhD jadi pasti ‘intelektual’. Ada banyak hal2 kontradiktif pada dirinya (spt umumnya manusia lain), PhD yg percaya pada blue-energy, supertoy, dan numerology 9 – belum lagi segala macem jin, adalah salah satunya. Juga jendral militer yg dicetak di jaman soeharto (baca: diktator militer) tetapi bisa begitu ragu2 dan gak-pede spt harmoko, civilian yg jadi kesed-soeharto (militer aja jadi kesed-soeharto, spt wiranto, ya ambrol). SBY adalah jendral nyleneh, karena dia sukses walau tidak di-emut soeharto (bukan karena kurang usaha dari SBYnya!, cuman soeharto nya yg cuwek).

Lalu SBY adalah seorang jawa ndeso pacitan, tapi sangat beda dari soeharto yg kere ndalit, SBY adalah ‘middle-class’ di khasanah ndeso, anak tunggal dari keluarga ‘priyayi cilik’.  Ini jelas mempengaruhi sudut pandang SBY. Tidak spt soeharto yg alienated karena kere pol dan bapak gak ada. SBY alienated juga secara sosial, bukan karena kerenya, tetapi karena ambegan (ambisi) keluarga kelas menengah yg tahu ttg dunia ‘priyayi asli’ dan sekaligus tahu bahwa mereka bukan. Ditambah lagi, sebagai anak satu2nya, yg relatif ‘bagus’ (dalam artian jawa ini berarti anak yg relatif bersih, tinggi –> bambangan, bukan cakil), jelas bahwa cita2 keluarga numpuk di pundaknya.  Sekolahnya relatif baik, hal spt ini tidak berarti kecerdasannya sangat istimewa, kecuali dalam hal dorongan ambisi dan kesempatan2.

Kelahirannya yg numerologi 9 (9/9/1949) itu mungkin juga faktor penentu. Yg jelas, keberhasilannya masuk AMN (Akabri), lalu mempersunting anak gubernurnya yg pahlawan (sarwo edhie) pasti makin memastikan ‘pinasti’ (nasib) nya, sama spt kawinnya soeharto dg tien.

Prestasi militer SBY tidak membuatnya di tengah2 kancah, dia lebih merupakan seseorang yg selalu di pinggiran, tetapi tidak terlalu jauh.  Jadi pada saat2 huru hara, dimana tokoh2 nomor 1, 2, 3 tidak bisa dipercaya, maka tokoh2 nomor 9 keatas jadi bisa bermain.

Psikografis SBY adalah seseorang yg tidak menonjol, tahu batasan dirinya sendiri, tetapi didorong oleh ambisi2 irasional (ambegan priyayi cilik, numerologi, kawin naik, prestasi sekolah).

Pada dirinya banyak dorongan yg ber-beda2.

Idea2 tinggi didunia (ideologi2, cara2 manajemen negara, sampai metodologi sosial dan public governance practices sampai ke public relation techniques) cukup dikenalnya, walau tidak bisa dipastikan secara mendalam, tetapi jelas jauh lebih dalam daripada rata2 pemimpin Indonesia sejak soeharto (hanya soekarno yg mungkin lebih intektual dari SBY). Jelas jauh dari Mega dan GD misalnya.  Ini yg memberinya kesan pintar di Indonesia.
Pertanyaannya, apakah ‘lebih tinggi dari mega’ ini berarti cukup? Ini adalah pertanyaan penting. Karena banyak tindakan SBY kontradiktif. Banyak indikasi bahwa dia tidak cukup mengerti, hanya sangat rudimentari, sehingga dia lebih berkonsentrasi pada sisi yg paling nampak nyata: public face.

Dorongan lain adalah semangat priyayi ndesa yg berambegan tinggi, nampak dari seleksi ring-1 nya. Terdiri dari orang2 yg relatif yes-men, tidak kritis, dan sangat mungkin banyak menjilat, me-muji2 SBY sebagai ‘the one’. Walau soeharto juga punya kecenderungan ini – karena practically semua traditional culture, baik jawa, arab maupun cina dan eropa punya hal2 spt ini –  keduanya berbeda secara mendasar.

Penjilat SBY adalah mereka2 yg percaya (atau pura2 percaya) bahwa SBY linuwih secara intelektual dan pribadi, the-one yg cultural, bukan power-based.  Dan ini pula yg tampaknya dipercaya oleh SBY pribadi.

Dari sisi ini, SBY adalah jenis penguasa yg sangat berbeda dari soeharto. Yang diinginkan SBY bukanlah kekuasaan mutlak, bukan orang terkaya (walau tambah kaya / kuasa jelas tidak ditolaknya) di Indonesia, tetapi orang paling pintar, orang yg paling berjasa, dan juga orang yg (nantinya) paling dihormati karena jasa2nya.  Seorang pandita-ratu dg penekanan pada pandita.

Apakah ini berarti ideal? Kita lihat lagi nanti.  Karena sisi lain, kedangkalan emosi / jiwa nya (yg lagi2 kedangkalan ini tidak selalu berarti negatif – relatif normal untuk rata2 orang Indonesia saat ini, self centred – jelas dia bukan seorang yg selfless), membuat dia menekankan pada sisi yg paling practical: sisi yg tampak.

Nah, disini kita perlu menilai kultur Indonesia saat ini.

KULTUR

Budaya Indonesia adalah budaya yg sedang bergerak dari model full-traditional ke model masyarakat modern.  Perbedaan besar adalah dalam pemahaman kekuasaan / konsep sukses dan kekuasaan publik.  Secara tradisional, pemimpin adalah penguasa, spt sheikh arab atau OKB amrik, atau wangwee cina. Kaya bisa seenaknya, bisa seenaknya berarti kuasa. Jaman soeharto kita melihat konsep kekuasaan tradisional ini full-blast. Spt halnya jaman penjajahan, dan jaman2 tradisional lainnya.  Sampai kini semua birokrasi pemerintahan Indonesia masih full-soehartoist. Pemimpin harus enak : kaya, seenaknya. Dari anggota DPR sampai bupati2 sampai polisi dan jaksa semua masih spt ini, spt otak jan-pietersoen. Pemimpin tidak boleh kerja keras, tidak harus menuruti peraturan. Kita melihat kultur ini sangat kuat di polisi dan kejaksaan yg saat ini sedang berbenturan dengan KPK yg mencoba menerapkan kepemimpinan non-tradisional.

Kepemimpinan non-trad menekankan sisi kewajiban dari pemimpin publik, sebagai pemimpin publik / pelayan masyarakat (public servant) maka pemimpin bukanlah raja, bahkan pemimpin harus mendapat sistem hukum yg lebih keras dari rakyat biasa. KPK adalah organisasi non-trad spt ini di Indonesia. Sri Mulyani mencoba membuat organisasi pajak dan bea-cukai spt ini, beberapa (kata kuncinya: beberapa) bupati menerapkannya.

Obama adalah poster-boy non-trad ini, albeit pada level yg lebih tinggi lagi (penggunaan teknologi misalnya). Kekaguman SBY pada obama adalah good point – sayang so far SBY masih mencontoh kulit2 saja (pesta2 pidato dllsb).

Sebaliknya, Polri dan Jaksa adalah tipikal organisasi trad. Menekan orang kecil, baik rakyat maupun pegawai sendiri, menghindari hukum untuk atasan, men-cari2 hukuman untuk rakyat.  Ala jan-pietersoen (bagusnya buat si yan, dia  menerapkannya di negeri jajahan, bukan di negeri sendiri!).

Kita nanti akan menilai SBY ada dimana dalam nuansa trad-nontrad ini.
Sisi lain dari budaya Indonesia saat ini ada lagi tiga kata: legalisme, selebriti dan MLM (multi-level-marketing).

Legalisme adalah ciri sistem hukum amerika (budaya mandarin cina dan arab tradisional adalah juga legalist), yaitu “apa yg (kulakukan) tidak jelas2 terbukti salah adalah benar”.  Di dunia modern Amerika adalah sistem paling legalist, sedemikian sehingga seseorang bisa menuntut McDonald yg menjual kopi ke pembeli di mobil yg tumpah menyiram vagina pembelinya, dan dia menuntut ganti rugi besar.  Kita belum mencapai level itu kini, tapi arahnya jelas kesana.  Tampak pada kasus2 besar dimana rekaman dan intensi jelas pelaku tidak bisa memenangkan kasus, sebaliknya penguasa bisa seenaknya menyebar tuduhan ‘pencemaran nama baik’ yg tak berdasar.

Legalisme ini mempunyai sisi baik – kepatuhan pada hukum – tetapi istilah ini biasa dipakai untuk hal2 yg keterlaluan demi hukum itu sendiri, bukan demi keadilan (padahal hukum dibuat untuk keadilan). Sukses legalisme di Indonesia ini adalah suatu fenomena sosial yg menarik, ada faktor2 luar. Mandarinisme budaya cina adalah budaya legalist, yg menelorkan kongsi antara penegak hukum dan orang kaya (wangwee) spt yg sekarang terjadi di Indonesia antara sampoerna/ anggoro dengan polri/jaksa (dan dari dulu).  Islam juga agama yg legalist, dimana seringkali hukum bisa diatas keadilan.  Lalu pengaruh budaya amerika. Dan interaksi dengan faktor2 lain dibawah.

Budaya Selebriti adalah budaya dimana orang yg terkenal menjadi ‘elit’ alias linuwih, karena seleb nya. Jadi orang terkenal ‘pantas kaya’. Fenomena ini men-jadi2 di Indonesia sepuluh tahun terakhir. Manohara itu adalah contoh yg sangat dahsyat. Ribuan contoh lain. Status “seleb” (= ini julukan bagi orangnya) jadi status yg sangat dikejar.  Dan karena status ini mudah / murah di bagikan oleh pihak2 tertentu (produser tv / radio, artis, penguasa) maka jual-beli status seleb ini jadi currency tersendiri.  Lagi2 ini adalah fenomena yg sangat populer di budaya Amerika.  Selain itu, ada basis biologis untuk manusia ingin tahu / gosip orang2 yg terkenal. Fenomena ini baru jadi penting setelah akhir2 ini di monetasi (= di jadiin duit!). Dulu seorang seleb bisa miskin (ada artis tua yg bunuh diri karena banyak utang menjaga imaj seleb tapi gaji kecil), sekarang semua negosiabel.  Ini yg baru.
Lalu status ‘seleb’ itu sendiri yg sering di-parlay ( di sebar) ke sektor lain, seleb pengacara jadi artis, artis jadi anggota dpr dlsb. Bagi mereka2 yg sudah kaya mengejar status seleb ini jadi dorongan utama.

Ketiga adalah perubahan budaya yg sangat subtle sekaligus sangat kuat dalam mengubah sistem budaya Indonesia: multi level marketing /MLM.  Ide MLM awalnya hanya di sales / marketing, suatu cabang jalur penjualan, diawali oleh Avon dan Tupperware misalnya. Ya, lagi2 ini ini idea yg terutama dari Amerika, kemudian di adaptasi besar2an di Asia.  Dalam sistem ini penjualan adalah pendekatan personal seseorang ke orang2 yg kenal / percaya padanya.  Awalnya ibu2 menjual kosmetik dan barang2 klontong ke teman2 arisan, famili. Lama2 meluas, asuransi misalnya, menerapkannya secara besar2an. Lalu perbankan, dan practically semua bentuk, dan pelakunya juga sangat luas. Seorang penjual MLM tidak perlu punya apa2 kecuali koneksi / famili yg bisa di tekannya.
Ini meledak menjadi sangat luas kini, hubungan kekeluargaan jadi rusak, seorang keponakan yg manis sekarang bukan lagi hanya ramah, tetapi sangat ramah, dengan tujuan komisi MLM.  Lalu melebar ke non-material.  Perluasan MLM paling dahsyat adalah fenomena makelar kasus (MLM sesungguhnya adalah modernisasi makelaran / blantikan), spt kasus Sigid-Antasari kini. Transaksi MLM ini tidak cash lagi, yg penting adalah adanya mark-up tinggi yg di split. Sampahmu adalah harta karun bagi orang lain.  Di kalangan pejabat publik konsep ini sangat luar biasa. Polisi / jaksa yg mem’fasilitasi’ pertemuan pihak2 bersengketa (dan menekan satu pihak tentunya, buyer – seller dichotomi) untuk 10% – 40% (berkeringat atau tidak).  Anggota DPR yg ‘you scratch my back, I’ll do yours’.  Sangat marak.  Terutama bentuk2 yg non-cash itu.

Bisa dibayangkan kombinasi ketiga faktor diatas sekaligus: legalist untuk membebaskan diri, status selebriti untuk mendapat biaya, mlm untuk spread biaya dan tanggung jawab.  Kita bisa membuat studi kasus kompleks untuk kasus pembunuhan nasruddin oleh antasari-sigid-wilardi.  Bagaimana dengan kasus lapindo? Legalist mendapatkan sp3, mlm parlay status dan biaya.
Dalam skala2 yg lebih kecil jauh lebih meluas lagi.

Korupsi – ditinjau dari sisi ini, adalah suatu fenomena yg tidak bisa dihindari lagi. Semua tindakan ini harus ada yg meng-cover biayanya, dan biaya paling murah bagi semua pihak adalah OPM (other people’s money = uang orang lain, bagus lagi jika uang publik).  Korupsi bukanlah sesuatu yg “perlu dikikis” (ini slogan kosong saja) – karena korupsi adalah suatu kesempatan yg sangat dicari, kebanyakan orang tidak korupsi adalah karena tidak memiliki kekuasaan untuk korupsi.  Di negara Indonesia saat ini, orang yg berkuasa untuk korupsi tetapi tidak melakukannya adalah orang aneh, ini kemajuan dari jaman soeharto yg menyatakan mereka bukannya aneh tetapi “musuh bersama”.

ANALISA

Setelah melihat latar belakang spt diatas.  Banyak fenomena di Indonesia menjadi jauh lebih jelas.  Bagaimana banyak orang hanya pura2 bertindak sesuatu untuk mengejar sesuatu yg lain. Departemen2 sosial yg memberi dana bantuan secara sebarangan pada org yg datang (hanya syarat administratif spt punya keterangan polisi) asal mau meneken kwitansi blangko yg nantinya akan diisi oleh petugas itu untuk klaim ke atas dengan angka jauh lebih tinggi.
Atau bagaimana jaksa membuka ‘warung kejujuran’ di sekolah2 yg tujuannya menjebak anak2 sekolah yg relatif inosen (pencurian makanan warung most likely hanya pranks) – untuk menunjukkan ‘sudah kerja’ sambil menyiksa pihak lemah.

Apa yg seharusnya dilakukan?
Jelas pula. Bukannya tidak ada organisasi sosial di Indonesia yg sudah mengerjakan hal2 yg benar.
KPK, bea cukai dan pajak melakukan banyak perbaikan public  governance.  Harus mulai dari diri sendiri. Ketat. Hukuman yg jelas.  Penjelasan clear bahwa penguasa adalah ‘karyawan’, bukan demang atau bajak-laut.

Sebaliknya, apa yg dilakukan polri rata2 adalah contoh jelas kengawuran tradisional itu. Mulai dari struktur jendral yg kaya raya dan bintara yg kere, sampai sistem yg memungkinkan polisi menekan rakyat, lewat pengumuman aturan lalin yg alpa, ketidak adanya pelayanan yg jelas, mereka yg menghendakinya harus membayar.  Banyak sekali cara untuk mencuri / melakukan hal yg salah.  Sedikit jalan yg benar.

Tidak banyak cara untuk membangun suatu organisasi yg benar. Dan hal ini sudah dianalisa di-mana2. Etika kerja, sistem operasi yg benar, peraturan internal yg ketat, pemimpin yg akuntabel.  Sebaliknya tak terhitung cara untuk bertindak tradisional dalam memimpin, menerima berbagai jenis gratifikasi, dari yg goblog2an cash spt mafia purba, sampai yg transfer account asing dg asing (spt di sinyalir Sri Mulyani).  Belum lagi yg ‘non-cash trading’ spt BLBI dulu dan ribuan kasus sampai kini, termasuk lapindo.  Tolong aku, kau dapat cash dikit, ‘kartu bebas penjara’ plus support voters, plus omongan baik untuk calon besan ..

Soal ‘rasa bersalah’ juga gampang mengatasinya, bangun saja langgar / mesjid, dengan seed-money seratus juta juga bisa (duit plus pressure ke pejabat lokal .. lagi!).  Jelas kita mengapa dunia Indonesia membutuhkan orang2 spt markus artalita, sigid, eddy, sampai ke TK!

Bagaimana SBY dalam kancah ini semua?
Itu inti tulisan di bag 2.

25/10/09